Waran merupakan turunan dari Saham. Ini merupakan surat berharga juga. Surat ini merupakan hak untuk membeli saham pada harga tertentu serta pada waktu tertentu. Biasanya Waran diterbitkan pada saat perusahaan melaksanakan IPO saham, dimana waran sebagai pemanis, diberikan secara cuma cuma salah satu instrumen untuk menarik investor agar lebih bergairah untuk melakukan pembelian saham yang diterbitkan. Waran juga biasanya diterbitkan bersamaan dengan perusahaan menerbitkan Right. Tujuannya sama, sebagai pemanis.
Nah kalo waran merupakan hak untuk membeli saham pada harga dan waktu tertentu lalu apa bedanya dengan Right…? Memang hampir sama, hanya saja waktu perdagangan waran lebih lama… bisa sampai lima tahun mendatang, sedangkan pada Right hanya beberapa hari saja. Perbedaan lainnya terletak pada tujuannya… dimana waran sebagai pemanis bagi investor, penerbitan Right lebih menunjuk pada aksi korporasi misalnya penghimpunan dana guna akuisisi, restrukturisasi modal dan lain lain. Sehingga tingkatan antar keduanya berbeda.
Kedua surat berharga ini tidak melekat hak suara bagi pemegangnya.Tidak seperti seperti Right yang beresiko terkena dilusi (pengurangan prosentase kepemilikan saham) apabila right/haknya tidak dilaksanakan, maka pada Waran tidak ada hubungannya dengan prosentase kepemilikan saham.
Nah bagaimana memperlakukan waran dan right ini tergantung dari ekspektasi para pemegangnya masing masing. Pengambilan keputusan Apakah Right dan Waran akan dijual di pasar atau dieksekusi sangat tergantung pada harga pasar.
Contoh 1 :
Saham Truba Jaya (TRUB) melakukan IPO saham dengan harga Rp110 per saham dengan rasio waran 1:1 (setiap pembelian 1 saham memperoleh 1 waran secara gratis) dimana waran nantinya dapat untuk membeli 1 saham dengan harga Rp135 paling lambat tanggal 15 Oktober 2009. Perdagangan waran dan saham terpisah. Jadi bila seseorang akan menjual saham di pasar sekunder dari pembelian saat IPO, dia tidak harus menjual warannya. Bisa disimpan hingga waktu jatuh tempo untuk kelak dieksekusi atau di jual saja di pasar. Waran juga dapat diperjualbelikan.
Contoh 2 :
Untuk mendanai akuisisi (pengambilalihan perusahaan) atau pengembangan usaha, PT Bakrie & Brothers (BNBR) melakukan penerbitan Right dengan rasio 119:20. Setiap pemegang 119 saham memiliki 20 hak/right dimana 1 hak dapat membeli 1 saham baru seharga Rp500.
Contoh 3 :
Untuk pengembangan usaha dan akuisisi PT Agis Tbk menerbitkan Right yang melekat waran. Rasio Right 2:1, setiap pemegang 2 saham memperoleh 1 hak untuk membeli 1 saham baru dengan harga Rp200. Setiap 6 saham baru hasil pelaksanaan berhak atas 1 waran yang dapat digunakan untuk menebus lagi 1 saham dengan harga Rp200.
Untuk dapat mengerti dan paham mengenai surat berharga ini, sebaiknya anda langsung praktek saja, beli saham saat IPO yang ada warannya atau membeli saham di pasar sekunder yang akan menerbitkan Right, gak usah banyak banyak, beli dengan jumlah minimal saja. Kalau sambil praktek kan cepet paham.
Jumat, Mei 23, 2008
Waran
Berita Emiten 23 Mei 2008
TRUB
Karena pasar keuangan belum stabil, perseroan membatalkan rencana penerbitan obligasi senilai US$200 juta.Selanjutnya perseroan akan melanjutkan alternatif pinjaman untuk membiayai ekspansi pembangunan pembangkit listrik senilai US$600 juta.
INKP
Manajemen menyampaikan bahwa belum ada aksi korporasi dan rencana ekspansi yang material pada tahun ini. Aksi korporasi terakhir adalah penambahan mesin produksi. Perseroan diuntungkan oleh kenaikan harga kertas yang dipicu oleh tutupnya beberapa pabrik kertas di Canada dan AS. Hal ini mendorong peningkatan penjualan dan pada akhirnya memperbaiki kinerja perseroan.
BBRI
Menargetkan dapat menyalurkan kredit kepada BUMN sebesar Rp7T tahun ini. Dari jumlah tersebut Rp3-4T akan disalurkan kepada ANTM.
AALI
Melakukan ekspansi pembangunan pabrik pengolahan sawit senilai US$16 juta di Kalimantan yang diharapkan dapat beroperasi tahun 2010. Perseroan akan membagi dividen sebesar 65% dar laba bersih tahun 2007 atau sebesar Rp815.
Jumat, Mei 16, 2008
Berita Emiten 16 Mei 2008
MEDC
Berencana akan mengembangkan bisnis di sektor energi nonmigas yaitu batubara atau batubara melalui Medco Mining dan Medco Agro.Saat ini perseroan tengah menjajaki untuk mengakuisisi beberapa kuasa pertambangan di Kalimantan, Sumatera dan Papua. Perseroan menyiapkan US$50 juta untuk pengembangan tahap awal. Sementara kebutuhan dana investasi secara keseluruhan dalam 3 tahun kedepan untuk pengembangan 7 proyek utama, perseroan membutuhkan sekitar US$1.3M.
WIKA
Tengah mencari pendanaan sekitar Rp200M guna menutup kebutuhan investasi sebesar Rp300M tahun ini berupa akuisisi 3 perusahaan konstruksi pada bidang pertambangan, jalan tol dan mechanical electrical.
SMAR
Berencana mengakuisisi lahan seluas 1 juta ha di Papua senilai US$5M secara bertahap selama 10 tahun ke depan. Untek kebutuhan investasi tahun ini sebesar Rp1.3T. Hal ini sebagai langkah memperkuat bisnis pengolahan sawit yang hingga kini sebagian masih di pasok oleh perusahaan lain. Dana akuisisi akan diambil dari alternatif pinjaman akuisisi atau kas internal. Saat ini perseroan telah memperoleh komitmen pinjaman sebesar Rp1T dari bank sindikasi.
BMRI
Berencana mendivestasikan 38% sahamnya pada PT Semen Kupang senilai Rp50M. Calon pembeli potensial adalah perusahan Indian, Nava Bharat.
Kamis, Mei 15, 2008
Berita Emiten 15 Mei 2008
SMGR
Membukukan kenaikan penjualan pada Januari-April 2008 sebesar 10.9% dibanding periode sama tahun lalu yang didorong oleh permintaan domestik.
UNSP
Mencari investor untuk membentuk perusahaan patungan dari anak usaha perseroan (PT Sentosa Persada) guna memperoleh dana US$80 juta. Perusahaan ini nantinya akan menggarap kebun sawit senilai US$260 juta. Selain dari penjualan anak usaha, pemenuhan kebutuhan dana akan diambil dari kas internal dan penerbitan obligasi.
INTP
Dalam 4 tahun kedepan perseroan menyiapkan dana investasi sekitar Rp6.71T. Dana tersebut untuk ekspansi pembangunan pabrik dan modifikasi mesin untuk meningkatkan kapasitas produksi.
BLTA (unaudit)
_______________ Q1 2008_________Q1 2007______Pertumbuhan__
Pendapatan Rp1.57T Rp840M 87%
Laba Usaha Rp500M Rp265M 89%
Laba Bersih Rp1.1T Rp179M 515%
EPS Rp271 Rp45 502%
Selain meningkatnya laba usaha, Perseroan mengalami lonjakan pendapatan lai lain dari perubahan ilai wajar atas obligasi konversi dan wesel bayar.
BMRI
Berpotensi memperoleh pelunasan utang dari 7 obligor senilai Rp3T pada Q2 2008. Hal ini akan menurunkan NPL gross hingga 50%.
IPO
PT Adaro Energy menaikkan target perolehan dana IPO menjadi Rp12T dari sebelumnya Rp10T.
Rabu, Mei 14, 2008
Berita Emiten 14 Mei 2008
ANTM
Melakukan kerjasama dengan perusahaan baja asal India. Jindal Stainless untuk mengembangkan pabrik baja dan peleburan nikel di Sulawesi dengan investasi Rp6.44T yang akan dimulai tahun 2009.
INDF
Melalui anak usahanya Indoagri, berencana mengakuisisi 80% saham PT Lajuperdana senilai Rp375M. Perusahaan sasaran memliki salan seluas 21.500 ha di Sumatera yang dalam proses konversi ke perkebunan tebu. Dana akan diambil dari kas internal.
INAF-KAEF
Pemerintah kembali mengupayakan merger kedua perusahaan farmasi ini setelah tertunda beberapa waktu. Hal ini untuk mendorong efisiensi dan mengoptimalkan produk. Ditargetkan merger selesai pada tahun ini.
TRUB
Dalam proses mencari pinjaman sebesar US$175 juta yang akan digunakan untuk membiayai proyek PLTU di Banyuasin senilai US$250 juta. Pada Q1 2008, bisnis Pembangkit listrik memberi kontribusi pendapatan sebesar 22%.
TINS
Menjajaki akuisisi 4 perusahaan tambang batubara di Kalimantan senilai Rp2T yang nantinya akan dibiayai dari kas internal dan pinjaman.
TBLA
Akan mengembangkan bisnis sawit dengan menggarap lahan seluas 36 ribu ha di Sumatera dan Kalimantan. Perseroan menyiapkan dana Rp1.2T yang diambil dari pinjaman bank 65% dan sisanya kas internal.